Senin, 13 Maret 2017

permasalahan masyarakat "desa"

kelangkaan air di desa
            Air bersih adalah salah satu jenis sumberdaya berbasis air yang bermutu baik dan biasa dimanfaatkan oleh manusia untuk dikonsumsi atau dalam melakukan aktivitas mereka sehari-hari dan memenuhi persyaratan untuk pengairan sawah, untuk treatment air minum dan untuk treatmen air sanitasi.         
Desa adalah bentuk pemerintahan terkecil yang ada di negeri ini. Luas wilayah desa biasanya tidak terlalu luas dan dihuni oleh sejumlah keluarga. Mayoritas penduduknya bekerja di bidang agraris dan tingkat pendidikannya cenderung rendah.
Dari pengertian air bersih dan desa di atas sangat jelas sekali bahwa dalam suatu desa sangat-sangat memerlukan pengaliran air bersih untuk mendukung kegiatan pertanian yang masyarakat desa lakukan.
air merupakan komponen yang sangat penting untuk manusia. Bahkan di dalam tubuh manusia 70 persen terdiri dari unsur air. Memang sudah hakikatnya manusia tidak bisa hidup tanpa air. Manusia banyak melakukan aktivitas dan air adalah sarana pendukung terbaik dalam banyak aktivitas, seperti bukan hanya untuk mengairi sawah, tetapi juga untuk memasak memerlukan air, mencuci, mandi, dsb juga memerlukan air, terutama air bersih yang sehat dan dapat dikonsumsi untuk keberlangsungan hidup sehari-hari.
Beberapa tahun belakangang ini, Permasalahannya masih sama manusia tidak bisa menghemat dan memanagemen air dengan baik, yang kita tau saat ini jumlah air bersih sangat sedikit atau mengalami kelangkaan. Bahkan terdapat di beberapa daerah tertentu yang kesulitan air bersih. Air yang melimpah belum tentu dapat memenuhi kebuthan air bersih masyarakat setempat. Karena Banyak air tetapi bukan air bersih yang dapat langsung dikonsumsi.
Dalam suatu desa yang rata-rata bermata pencaharian agraris sangat memerlukan air untuk mengairi sawah-sawah mereka. Tetapi bagaimana dengan suatu desa agragris yang mengalami kelangakaan air bersih.
Permasalahan ini bukan hanya di satu daerah saja, tetapi banyak yang serupa tertapi tidak pernah mendapat tindak lanjut dari pemerintah setempat.
Dalam hal ini saya mengangkat permasalahan “Krisis air bersih” disuatu desa tepatnya di Desa Gugah Sejahtera, Kec. Pemangkat, Kab.Sambas, Kalimantan Barat. Kurang lebih mungkin masalah ini pernah ada di daerah lainnya. Semoga masalah ini bisa di perhatikan dan dapat diselesaikan bersama-sama.
B.     Gambaran Masalah krisis air bersih di Desa Gugah Sejahtera
Di Indonesia, dengan jumlah penduduk mencapai lebih 200 juta, kebutuhan air bersih menjadi semakin mendesak. Sejalan dengan kebutuhan air bersih yang meningkat sedangkan kemampuan penyediaan air bersih semakin menurun menyebabkan terjadinya masalah air bersih. Masalah air bersih telah menjadi masalah yang fenomenal dan berkelanjutan dalam kehidupan manusia. Ya, krisis air bersih. Kecenderungan konsumsi air diperkirakan terus naik hingga 15-35 persen per kapita per tahun. Sedangkan ketersediaan air bersih cenderung melambat (berkurang) akibat kerusakan alam dan pencemaran.
Sekitar 119 juta rakyat Indonesia belum memiliki akses terhadap air bersih. Penduduk Indonesia yang bisa mengakses air bersih untuk kebutuhan sehari-hari, baru mencapai 20 persen dari total penduduk Indonesia. Itupun yang dominan adalah akses untuk perkotaaan. Artinya masih ada 82 persen rakyat Indonesia terpaksa mempergunakan air yang tak layak secara kesehatan.
Di Desa Gugah Sejahtera, Kecamatan Pemangkat, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. Warga disana kebanyakan menampung air hujan dari atap rumah ke dalam tempayan, blong atau drum, jeriken-jeriken plastik untuk dimanfaatkan pada musim kemarau dan banyak warga yang membuat telaga atau sumur bor yang terkadang masih berbau dan banyak mengandung zat besi dan logam berkarat di dekat rumah. Menurut Kepala Dusun Desa, kesulitan yang dihadapi warga kampung Gugah Sejahtera bukan hanya kelangkaan air bersih, tetapi juga pada Infrastruktur yang buruk seperti PDAM ditambah lokasi yang jauh dari jangkauan PDAM menyebabkan pipa air PDAM tidak sampai kerumah warga akibatnya warga kesulitan mengakses air bersih atau ledeng. Kepala Dusun menambahkan, dulu ada mata air dan sungai yang terletak di perbukitan Gunung Gajah Bahkan terdapat bendungan air yang diberi nama Pagong yang terletak disekitar perbukitan Gunung Gajah dan dulunya bisa mengalirkan air saat kemarau, tempat masyarakat mencuci baju, dan mandi. Tapi sekarang, mata air dan sungai itu berhenti mengalir. Karena sudah kering dan tanah perbukitan tersebut menjadi pemakaman muslim Gunung Gajah.
Hal ini disebabkan oleh  perilaku warga yang menyimpang dan tidak taat aturan, mereka membuang sampah disungai sehingga tercemar, saat ini bila anda melewati sungai pemangkat akan tercium bau tidak enak yang sangat menyengat, di sekitar tepian jalan raya. Selain itu mereka menebang pohon, dan dulu karena dekat dengan sumber air mereka tidak memperhitungkan dampak kedepannya alhasil saat ini warga pemangkat benar-benar krisis air bersih.
 Warga yang membutuhkan air bersih harus berjalan kaki atau mengendarai sepeda sejauh 3,5 kilo meter ke mata air terdekat. Sebuah mata air dari telaga yang masih mengalir dan bening Untuk diangkut dengan jeriken-jerikan plastik mereka. Sejak saat keringnya Sampai sekarang dinas sosial Kabupaten Sambas , dan pemerintah setempat masih mencari cara untuk mengatasi permasalahan warga desa Gugah sejahtera. Jadi, selama bertahun-tahun belakangan ini masyarakat Desa hanya mengandalkan air hujan dan air telaga yang terkadang asin, dan terkadang mereka sering membeli air bersih di PDAM untuk mengatasi keberlangsungan hidup mereka. Tetapi pada musim kemarau tiba mereka sangat kekurangan.
Dari cuplikan peristiwa diatas menunjukkan krisis air atau ancaman kelangkaan air di Indonesia memang betul-betul ada.
C.    DAMPAK KRISIS AIR BERSIH TERHADAP MASYARAKAT DESA GUGAH SEJAHTERA
Krisis air bersih yang terjadi memberikan dampak yang buruk bagi manusia.
Beberapa diantara dampaknya adalah sebagai berikut :
1.      Saat ini warga hanya mengandalkan air hujan atau galon untuk dikonsumsi.
2.      Warga tidak mendapatkan akses air ledeng selama bertahun-tahun belakangan ini.
3.      timbulnya berbagai penyakit seperti diare dan cacingan yang menderita berbagai macam penyakit kulit, dll, terlebih pada musim kemarau.
4.      menurunnya kualitas kesehatan
5.      Krisis air bersih juga menyebabkan meningkanya angka kematian bayi
6.      terganggunya ekosistem
7.      menurunnya kualitas hidup manusia.
8.      Mengganggu produktivitas pertanian karena kurangnya air untuk irigasi.

D.    SOLUSI YANG DITAWARKAN
Perlindungan dan pelestarian terhadap sumber daya air sangat penting agar dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan dengan tingkat mutu yang diinginkan. Untuk itu perlu dilakukan berbagai upaya perlindungan dan pelestarian terhadap sumber daya air. Upaya-upaya yang dapat kita lakukan yaitu melakukan reboisasi (penanaman hutan kembali), melestarikan hutan, mengurangi tindakan-tindakan yang menyebabkan pemanasan global, menjaga kelesatarian sumber daya air, dan tidak mencemari sumber daya air dengan sampah maupun limbah serta membangun tempat penampungan air hujan.

Bukan hanya pemerintah yang ambil bagian dalam mengatasi krisis air bersih dengan melakukan kegiatan konservasi atau perlindungan dan pelestarian sumber daya air tetapi juga kita sebagai masyarakat harus turut serta terlebih dalam menghemat pemakaian air bersih.

Berdasarkan UU RI No.7 Th. 2004 Pasal 21 tentang konservasi sumber daya air, Pemeliharaan kelangsungan fungsi resapan air dan daerah tangkapan air Pengendalian pemanfaat sumber air, Pengisian air pada sumber pengaturan prasarana dan sarana sanitasi, Perlindungan sumber air dalam hubungannya dengan kegiatan pembangunan dan pemanfaatan lahan pada sumber air, Pengendalian pengolahan tanah di daerah hulu, Pengaturan daerah sepadan sumber air, Rehabilitasi hutan dan lahan, dan atau Pelestarian hutan lindung, kawasan suaka alam, kawasan pelestarian alam. Hal-hal yang bisa kita lakukan:
1.      Membuat hutan kota dan taman-taman kota.
2.      Menata ulang tata kota agar berbasis ekologis.
3.      Membuat “rumah” untuk cacing tanah. dilakukan untuk menanggulangi kelangkaan air pada musim kemarau.
4.      Melakukan upaya konservasi air dengan cara menampung atau menyimpan air pada saat berlebih untuk digunakan pada saat dibutuhkan (kemarau) terutama untuk pemenuhan kebutuhan domestik.
5.      Pembangunan tempat penampungan air hujan seperti situ, embung, dan waduk sehingga airnya bisa dimanfaatkan saat musim kemarau.
6.      Menjaga kelestarian sawah sebagai preservasi air.
7.      Memulai program penghijauan pada lahan kosong.
8.      Penggunaan teknologi Biogas guna mengurangi risiko polusi sungai dan sumber air oleh kegiatan peternakan.
9.      Mendaur ulang air limbah atau disebut juga Aqua Industrial Water Treatment.
10.  Menegakkan kegiatan tanam 1000 pohon (selama daur hidupnya pohon mampu menghasilkan 250 galon air).
11.  Mengurangi pencemaran air baik oleh limbah rumah tangga, industri, pertanian maupun pertambangan.
12.  Pengembangan teknologi desalinasi untuk mengolah air asin (laut) menjadi air tawar.
Dan kesemua itu musti dilakukan secara terintegrasi, berkelanjutan dan sesegera mungkin kecuali kalau kita memang menikmati dan bangga dengan krisis air bersih di negara yang kaya.

Terdapat cara yang lebih canggih dalam mengatasi masalah krisis air tersebut  mungkin ini dilakukan pada cakupan yang lebih besar yaitu :
Dengan menurunnya kualitas dan kuantitas air sungai yang mengalami degradasi akan menyebabkan biaya operasional akan lebih tinggi. Hal ini akan berimbas dengan tingginya biaya yang dibebankan kepada konsumen. Sehingga diperlukan inovasi teknologi untuk mengatasi masalah ini.
Sutopo Purwo Nugroho, Peneliti Utama Bidang Hidrologi dan Konservasi Tanah di BPPT & Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB untuk sebuah media massa nasional di Jakarta menjelaskan, salah satu teknologi yang perlu dikembangkan adalah Natural Treatment Plant (NTP), yakni menyadap air langsung dari akuifer di dalam tanah dan mendistribusikan ke hilir. Lapisan akuifer di daerah pegunungan digali atau dicoblos dengan pipa-pipa dan dibuat terowongan bawah tanah. Pada terowongan tersebut disediakan lubang-lubang untuk masuknya air tanah. Pengambilannya dilakukan seperti sumur biasa yang lazim ditemui di Indonesia. Pipa-pipa horizontal yang menyebar mengelilingi dasar sumur dipasang sepanjang 60 meter sehingga memperbesar kapasitas penyadapan. Air sadapan tersebut akan ditampung di reservoar untuk didistribusikan ke kota atau daerah.
Konsep ini banyak diterapkan di Jerman.Sekitar 80% air minum dipasok dari air tanah dan mata air yang disadap dengan teknologi NTP sehingga jarang ditemukan instalasi penjernih air di Jerman. Di kota Munich, penyediaan air melalui NTP mampu mengalirkan air hingga 6,5 m3/detik untuk mencukupi 1,5 juta jiwa dan industri. Pada penerapannya, Daerah Tangkapan Air (DTA) harus diawasi secara serius. DTA seluas 6000 ha yang sebagian milik pemerintah dan sebagian milik penduduk yang umumnya adalah peternak., dijaga dari pencemaran lingkungan. Petani dilarang menggunakan pupuk kimia di DTA dan sebagai gantinya pemerintah memberikan kompensasi subsidi 250 euro per hektar dan petani diperbolehkan mengambil pupuk kompos yang diproduksi secara lokal.
Keuntungan yang diperoleh sangat besar, karena tidak membutuhkan bahan kimia untuk mengolah air minum. Selain itu tidak diperlukan pompa distribusi karena letak reservoar berada di pegunungan. Kualitas air yang dihasilkan sekelas natural mineral water. Kualitas dan kontinuitas terjamin, dan DTA dapat dikonservasi.

DAFTAR PUSTAKA
Eko sujatmiko,2014. Kamus IPS, Surakarta:PT Aksarra Sinergi Media
http://infodanpengertian.blogspot.co.id/2015/11/pengertian-kelangkaan-scarcity-menurut.html




Tidak ada komentar:

Posting Komentar