kelangkaan air di desa
Air bersih adalah salah satu jenis
sumberdaya berbasis air yang bermutu baik dan biasa dimanfaatkan oleh manusia
untuk dikonsumsi atau dalam melakukan aktivitas mereka sehari-hari dan memenuhi
persyaratan untuk pengairan sawah, untuk treatment air minum dan untuk treatmen
air sanitasi.
Desa adalah bentuk
pemerintahan terkecil yang ada di negeri ini. Luas wilayah desa biasanya tidak
terlalu luas dan dihuni oleh sejumlah keluarga. Mayoritas penduduknya bekerja
di bidang agraris dan tingkat pendidikannya cenderung rendah.
Dari pengertian air
bersih dan desa di atas sangat jelas sekali bahwa dalam suatu desa
sangat-sangat memerlukan pengaliran air bersih untuk mendukung kegiatan
pertanian yang masyarakat desa lakukan.
air merupakan komponen
yang sangat penting untuk manusia. Bahkan di dalam tubuh manusia 70 persen
terdiri dari unsur air. Memang sudah hakikatnya manusia tidak bisa hidup tanpa
air. Manusia banyak melakukan aktivitas dan air adalah sarana pendukung terbaik
dalam banyak aktivitas, seperti bukan hanya untuk mengairi sawah, tetapi juga
untuk memasak memerlukan air, mencuci, mandi, dsb juga memerlukan air, terutama
air bersih yang sehat dan dapat dikonsumsi untuk keberlangsungan hidup
sehari-hari.
Beberapa tahun
belakangang ini, Permasalahannya masih sama manusia tidak bisa menghemat dan
memanagemen air dengan baik, yang kita tau saat ini jumlah air bersih sangat
sedikit atau mengalami kelangkaan. Bahkan terdapat di beberapa daerah tertentu
yang kesulitan air bersih. Air yang melimpah belum tentu dapat memenuhi
kebuthan air bersih masyarakat setempat. Karena Banyak air tetapi bukan air
bersih yang dapat langsung dikonsumsi.
Dalam suatu desa
yang rata-rata bermata pencaharian agraris sangat memerlukan air untuk mengairi
sawah-sawah mereka. Tetapi bagaimana dengan suatu desa agragris yang mengalami
kelangakaan air bersih.
Permasalahan ini
bukan hanya di satu daerah saja, tetapi banyak yang serupa tertapi tidak pernah
mendapat tindak lanjut dari pemerintah setempat.
Dalam hal ini saya
mengangkat permasalahan “Krisis air bersih” disuatu desa tepatnya di Desa Gugah
Sejahtera, Kec. Pemangkat, Kab.Sambas, Kalimantan Barat. Kurang lebih mungkin
masalah ini pernah ada di daerah lainnya. Semoga masalah ini bisa di perhatikan
dan dapat diselesaikan bersama-sama.
B.
Gambaran Masalah
krisis air bersih di Desa Gugah Sejahtera
Di Indonesia, dengan jumlah penduduk mencapai lebih 200
juta, kebutuhan air bersih menjadi semakin mendesak. Sejalan dengan kebutuhan
air bersih yang meningkat sedangkan kemampuan penyediaan air bersih semakin
menurun menyebabkan terjadinya masalah air bersih. Masalah air bersih telah
menjadi masalah yang fenomenal dan berkelanjutan dalam kehidupan manusia. Ya,
krisis air bersih. Kecenderungan konsumsi air diperkirakan terus naik hingga
15-35 persen per kapita per tahun. Sedangkan ketersediaan air bersih cenderung
melambat (berkurang) akibat kerusakan alam dan pencemaran.
Sekitar 119 juta rakyat Indonesia belum memiliki akses
terhadap air bersih. Penduduk Indonesia yang bisa mengakses air bersih untuk
kebutuhan sehari-hari, baru mencapai 20 persen dari total penduduk Indonesia.
Itupun yang dominan adalah akses untuk perkotaaan. Artinya masih ada 82 persen
rakyat Indonesia terpaksa mempergunakan air yang tak layak secara kesehatan.
Di Desa Gugah Sejahtera, Kecamatan Pemangkat, Kabupaten
Sambas, Kalimantan Barat. Warga disana kebanyakan menampung air hujan dari atap
rumah ke dalam tempayan, blong atau drum, jeriken-jeriken plastik untuk
dimanfaatkan pada musim kemarau dan banyak warga yang membuat telaga atau sumur
bor yang terkadang masih berbau dan banyak mengandung zat besi dan logam
berkarat di dekat rumah. Menurut Kepala Dusun Desa, kesulitan yang dihadapi
warga kampung Gugah Sejahtera bukan hanya kelangkaan air bersih, tetapi juga
pada Infrastruktur yang buruk seperti PDAM ditambah lokasi yang jauh dari
jangkauan PDAM menyebabkan pipa air PDAM tidak sampai kerumah warga akibatnya
warga kesulitan mengakses air bersih atau ledeng. Kepala Dusun menambahkan,
dulu ada mata air dan sungai yang terletak di perbukitan Gunung Gajah Bahkan
terdapat bendungan air yang diberi nama Pagong yang terletak disekitar
perbukitan Gunung Gajah dan dulunya bisa mengalirkan air saat kemarau, tempat
masyarakat mencuci baju, dan mandi. Tapi sekarang, mata air dan sungai itu
berhenti mengalir. Karena sudah kering dan tanah perbukitan tersebut menjadi
pemakaman muslim Gunung Gajah.
Hal ini disebabkan oleh
perilaku warga yang menyimpang dan tidak taat aturan, mereka membuang
sampah disungai sehingga tercemar, saat ini bila anda melewati sungai pemangkat
akan tercium bau tidak enak yang sangat menyengat, di sekitar tepian jalan
raya. Selain itu mereka menebang pohon, dan dulu karena dekat dengan sumber air
mereka tidak memperhitungkan dampak kedepannya alhasil saat ini warga pemangkat
benar-benar krisis air bersih.
Warga yang
membutuhkan air bersih harus berjalan kaki atau mengendarai sepeda sejauh 3,5
kilo meter ke mata air terdekat. Sebuah mata air dari telaga yang masih
mengalir dan bening Untuk diangkut dengan jeriken-jerikan plastik mereka. Sejak
saat keringnya Sampai sekarang dinas sosial Kabupaten Sambas , dan pemerintah
setempat masih mencari cara untuk mengatasi permasalahan warga desa Gugah
sejahtera. Jadi, selama bertahun-tahun belakangan ini masyarakat Desa hanya
mengandalkan air hujan dan air telaga yang terkadang asin, dan terkadang mereka
sering membeli air bersih di PDAM untuk mengatasi keberlangsungan hidup mereka.
Tetapi pada musim kemarau tiba mereka sangat kekurangan.
Dari cuplikan
peristiwa diatas menunjukkan krisis air atau ancaman kelangkaan air di
Indonesia memang betul-betul ada.
C.
DAMPAK KRISIS AIR BERSIH TERHADAP MASYARAKAT DESA GUGAH
SEJAHTERA
Krisis air bersih yang terjadi
memberikan dampak yang buruk bagi manusia.
Beberapa diantara dampaknya
adalah sebagai berikut :
1.
Saat ini warga hanya mengandalkan air hujan atau galon untuk
dikonsumsi.
2.
Warga tidak mendapatkan akses air ledeng selama
bertahun-tahun belakangan ini.
3.
timbulnya berbagai penyakit seperti diare dan cacingan yang
menderita berbagai macam penyakit kulit, dll, terlebih pada musim kemarau.
4.
menurunnya kualitas kesehatan
5.
Krisis air bersih juga menyebabkan meningkanya angka
kematian bayi
6.
terganggunya ekosistem
7.
menurunnya kualitas hidup manusia.
8.
Mengganggu produktivitas pertanian karena kurangnya air
untuk irigasi.
D.
SOLUSI YANG DITAWARKAN
Perlindungan dan pelestarian terhadap sumber daya air sangat
penting agar dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan dengan tingkat mutu yang
diinginkan. Untuk itu perlu dilakukan berbagai upaya perlindungan dan
pelestarian terhadap sumber daya air. Upaya-upaya yang dapat kita lakukan yaitu
melakukan reboisasi (penanaman hutan kembali), melestarikan hutan, mengurangi
tindakan-tindakan yang menyebabkan pemanasan global, menjaga kelesatarian
sumber daya air, dan tidak mencemari sumber daya air dengan sampah maupun
limbah serta membangun tempat penampungan air hujan.
Bukan hanya pemerintah yang ambil bagian dalam mengatasi
krisis air bersih dengan melakukan kegiatan konservasi atau perlindungan dan
pelestarian sumber daya air tetapi juga kita sebagai masyarakat harus turut
serta terlebih dalam menghemat pemakaian air bersih.
Berdasarkan UU RI No.7 Th. 2004
Pasal 21 tentang konservasi sumber daya air, Pemeliharaan kelangsungan fungsi
resapan air dan daerah tangkapan air Pengendalian pemanfaat sumber air,
Pengisian air pada sumber pengaturan prasarana dan sarana sanitasi,
Perlindungan sumber air dalam hubungannya dengan kegiatan pembangunan dan
pemanfaatan lahan pada sumber air, Pengendalian pengolahan tanah di daerah
hulu, Pengaturan daerah sepadan sumber air, Rehabilitasi hutan dan lahan, dan
atau Pelestarian hutan lindung, kawasan suaka alam, kawasan pelestarian alam.
Hal-hal yang bisa kita lakukan:
1.
Membuat hutan kota dan taman-taman kota.
2.
Menata ulang tata kota agar berbasis ekologis.
3.
Membuat “rumah” untuk cacing tanah. dilakukan untuk
menanggulangi kelangkaan air pada musim kemarau.
4.
Melakukan upaya konservasi air dengan cara menampung atau
menyimpan air pada saat berlebih untuk digunakan pada saat dibutuhkan (kemarau)
terutama untuk pemenuhan kebutuhan domestik.
5.
Pembangunan tempat penampungan air hujan seperti situ,
embung, dan waduk sehingga airnya bisa dimanfaatkan saat musim kemarau.
6.
Menjaga kelestarian sawah sebagai preservasi air.
7.
Memulai program penghijauan pada lahan kosong.
8.
Penggunaan teknologi Biogas guna mengurangi risiko polusi
sungai dan sumber air oleh kegiatan peternakan.
9.
Mendaur ulang air limbah atau disebut juga Aqua Industrial
Water Treatment.
10.
Menegakkan kegiatan tanam 1000 pohon (selama daur hidupnya
pohon mampu menghasilkan 250 galon air).
11.
Mengurangi pencemaran air baik oleh limbah rumah tangga,
industri, pertanian maupun pertambangan.
12.
Pengembangan teknologi desalinasi untuk mengolah air asin
(laut) menjadi air tawar.
Dan kesemua itu
musti dilakukan secara terintegrasi, berkelanjutan dan sesegera mungkin kecuali
kalau kita memang menikmati dan bangga dengan krisis air bersih di negara yang
kaya.
Terdapat cara yang lebih canggih
dalam mengatasi masalah krisis air tersebut
mungkin ini dilakukan pada cakupan yang lebih besar yaitu :
Dengan menurunnya
kualitas dan kuantitas air sungai yang mengalami degradasi akan menyebabkan
biaya operasional akan lebih tinggi. Hal ini akan berimbas dengan tingginya
biaya yang dibebankan kepada konsumen. Sehingga diperlukan inovasi teknologi
untuk mengatasi masalah ini.
Sutopo Purwo
Nugroho, Peneliti Utama Bidang Hidrologi dan Konservasi Tanah di BPPT &
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB untuk sebuah media massa nasional
di Jakarta menjelaskan, salah satu teknologi yang perlu dikembangkan adalah
Natural Treatment Plant (NTP), yakni menyadap air langsung dari akuifer di
dalam tanah dan mendistribusikan ke hilir. Lapisan akuifer di daerah pegunungan
digali atau dicoblos dengan pipa-pipa dan dibuat terowongan bawah tanah. Pada
terowongan tersebut disediakan lubang-lubang untuk masuknya air tanah.
Pengambilannya dilakukan seperti sumur biasa yang lazim ditemui di Indonesia.
Pipa-pipa horizontal yang menyebar mengelilingi dasar sumur dipasang sepanjang
60 meter sehingga memperbesar kapasitas penyadapan. Air sadapan tersebut akan
ditampung di reservoar untuk didistribusikan ke kota atau daerah.
Konsep ini banyak diterapkan di
Jerman.Sekitar 80% air minum dipasok dari air tanah dan mata air yang disadap
dengan teknologi NTP sehingga jarang ditemukan instalasi penjernih air di
Jerman. Di kota Munich, penyediaan air melalui NTP mampu mengalirkan air hingga
6,5 m3/detik untuk mencukupi 1,5 juta jiwa dan industri. Pada penerapannya,
Daerah Tangkapan Air (DTA) harus diawasi secara serius. DTA seluas 6000 ha yang
sebagian milik pemerintah dan sebagian milik penduduk yang umumnya adalah
peternak., dijaga dari pencemaran lingkungan. Petani dilarang menggunakan pupuk
kimia di DTA dan sebagai gantinya pemerintah memberikan kompensasi subsidi 250
euro per hektar dan petani diperbolehkan mengambil pupuk kompos yang diproduksi
secara lokal.
Keuntungan yang diperoleh sangat
besar, karena tidak membutuhkan bahan kimia untuk mengolah air minum. Selain
itu tidak diperlukan pompa distribusi karena letak reservoar berada di
pegunungan. Kualitas air yang dihasilkan sekelas natural mineral water.
Kualitas dan kontinuitas terjamin, dan DTA dapat dikonservasi.
DAFTAR PUSTAKA
Eko sujatmiko,2014.
Kamus
IPS, Surakarta:PT Aksarra Sinergi Media
http://infodanpengertian.blogspot.co.id/2015/11/pengertian-kelangkaan-scarcity-menurut.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar